Syuradikara Menggelar Workshop K13 dan UN

Sekolah Menengah Atas Katolik dan Sekolah Menengah Kejuruan Katolik Syuradikara serta beberapa SMA menggelar workshop Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum 2013 serta persiapan menjelang ujian nasional 2016. Kegiatan yang berlangsung di ruang guru Syuradikara ini diikuti oleh semua guru Syuradikara dan perwakilan guru beberapa sekolah di kota Ende pada beberapa waktu lalu.

Menurut pemateri, I Wayan Widana mengatakan, workshop ini bertujuan untuk memotivasi guru agar semakin profesional, membahas soal-soal UN yang sulit, merumuskan tindak lanjut untuk menjawab persoalan dalam pembelajaran, dalam struktur penulisan soal UN standar internasional.

Soal-soal simulasi UN yang dibuat guru di sekolah harus memenuhi prinsip soal internasional. Soal-soal itu memenuhi prinsip, pertama, Higher Order Thinking yakni kemampuan berpikir kritis, logis, refleksi, metakognitif, dan berpikir kreatif. Pada prinsip ini ranah kognitif meliputi analisis, evaluasi, emngkreasi. Kedua, Contextual Assessment. Pada prinsip ini soal harus diciptakan berdasarkan ruang lingkup stimulus/ konteks personal, sosial, dan global. Dan ketiga, PISA (Programme for International Stundent). Prinsip ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memahami, menggunakan, merefleksi  serta  terlibat  pada wacana teks dalam rangka mencapai tujuan membaca, mengembangkan pengetahuan dan potensi diri serta berpartisipasi dalam masyarakat.

Menurut Wayan yang juga merupakan salah satu pakar kurikulum Indonesia menambahkan, pendidik harus melakukan refleksi diri. Refleksi bertujuan untuk mencari kelemahan diri sendiri dan berusaha memperbaikinya. Refleksi diri tidak akan dibuat karena dia takut kekurangannya diketahui oleh orang lain. Ini yang mengakibatkan lembaga pendidikan kurang berkembang.

Guru diharapkan untuk membangun kualitas pendidikan yang jujur dan bersih. Siswa akan mendapat nilai UN yang baik dengan jujur. Siswa tidak disesatkan dengan kecurangan UN dengan berbagai cara. Guru tidak boleh melakukan kegiatan masif terstruktur untuk membantu anak dalam pemerolehan nilai UN yang baik dengan cara yang tidak benar.

Profesi guru adalah sebuah berkah. Berkat untuk diri guru sendiri dan untuk siswa. Siswa akan mendapat banyak pembelajaran baik kemampuan berpikir, keterampilan maupun afektif. Guru harus merasa bahwa ada tuntutan untuk menjadi guru yang profesional. Guru harus memiliki SDM yang memadai. Guru yang profesional selalu menguasai tiga pilar yakni pertama, penguasaan konsep. Guru menguasai bahan ajar yang akan diajarkan secara luas dengan berbagai referensi. Kedua, metode pembelajaran. Guru jangan mengajar dengan metode ceramah saja. Guru menemukan dan menguasai metode pembelajaran yang bervariasi agar siswa mendongkrak prestasi siswa. Dan ketiga, evaluasi. Soal-soal yang dibuat untuk evaluasi harus jelas agar tidak merugikan siswa. jangan sampai formulasi ka- limat rancu dan siswa tidak mengerti soal.

Dalam pembelajaran guru dituntut agar selalu memperhatikan posisi siswa. harus kontak terus dengan siswa. Gestus guru juga harus diciptakan ketika mengajar agar siswa lebih merasa menarik. Guru memberikan ruang kepada siswa untuk bertanya pada awal dan akhir pembelajaran. Guru menggunakan berbagai media pembelajaran agar pesan atau informasi sepenuhnya ditangkap siswa. siswa jangan hanya dengan kata tetapi juga dengan melihat melalui gambar/video.

Guru harus punya motivasi yakni sebelum masuk kelas harus semangat, guru harus banyak membaca dengan berbagai referensi, menikmati pekerjaan sebagai guru, tegas dalam bertindak, perlu pendekat- an pedagogik yang baik.