SMAK Syuradikara Menggelar UKBI bagi semua Peserta Didik

(Rio Nanto, SVD) SMAK Syuradikara Ende merupakan sekolah swasta yang telah diakui kemampuannya dalam mewujudkan misi “Pencipta Pahlawan Utama”.

 

Syuradikara berdedikasi mendidik generasi muda yang cerdas berkarakter. Saat ini, Syuradikara tetap berusaha mengembangkan SDM unggul dengan mempersiapkan peserta didiknya menghadapi era revolusi industri dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai nasionalisme.

Salah satu kegiatan yang disiapkan oleh SMAK Syuradikara dalam kegiatan dimaksud adalah mengikutsertakan peserta didiknya dalam tes Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI). Tes ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian dan ikut serta menjaga Bahasa Indonesia dalam penggunaan yang sesuai dengan aturan dan semboyannya “Bersama Syuradikara, Kita Ciptakan Generasi Sadar Bahasa, dalam Bingkai Kualitas Penggunaan Bahasa Indonesia”.

Kegiatan ini dibuat dalam kerja sama SMAK Syuradikara Ende dengan Kantor Bahasa Provinsi NTT (KBNTT). Nama kegiatan ini UKBI Adabtif. UKBI Adaptif merupakan tes untuk mengukur kemahiran berbahasa penutur bahasa Indonesia yang desain ujinya disesuaikan dengan estimasi kemampuan peserta uji, mulai dari kemahiran yang terendah hingga kemahiran yang tertinggi. UKBI Adaptif diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Februari 2021 yang lalu.

Adapun konsep standar kemahiran Berbahasa Indonesia adalah standar penguasaan kebahasaan dan kemahiran berbahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tulis. Standar kemahiran berbahasa yang diatur dalam Permendikbud Nomor 70 Tahun 2016.

Keberlangsungan UKBI ini diawali dengan sosialisasi dari Kantor Bahasa Provinsi NTT yang dibuat melalui aplikasi zoom. Ibu Haniva, salah satu pegawai KBNTT dalam materinya memaparkan manfaat UKBI bagi peserta didik antara lain. Pertama, sebagai salah satu persyaratan seleksi penerimaan mahasiswa baru. Kedua, sertifikat pendamping ijazah bagi pelajar. Ketiga, seleksi penerimaan pegawai profesi tertentu, keempat, tes pendamping kelulusan jenjang sarjana dan pasacasarjana.

Kelima, profesi yang dalam kesehariannya dituntut untuk menyelesaikan tugas dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis, seperti wartawan, editor, penerjemah, penulis, widyaprada, pengacara, dan peneliti. Keenam, Tenaga kerja asing dan pelajar asing yang ada di Indonesia.

Menurut  Ibu Haniva,  mengenai biaya UKBI berdasarkan PP Nomor 82 Tahun 2016, UKBI termasuk salah satu jenis penerimaan bukan pajak yang berlaku di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam peraturan itu telah ditetapkan besaran biaya untuk mengikuti UKBI Adaptif bagi pelajar/mahasiswa, masyarakat umum, dan warga negara asing (WNA). Tetapi menurut dia, UKBI gratis diberikan bagi peserta didik.

Adapun langkah-langkah yang perlu dipersiapkan oleh peserta didik meliputi; persiapan, pendaftaran, pengujian dan sertifikasi. Dalam tahap persiapan diberikan beberapa materi UKBI antara lain, seksi mendengarkan, seksi merespons kaidah, seksi membaca, seksi menulis dan seksi berbicara. Tetapi untuk pelajar hanya 3 seksi (mendengarkan, merespons kaidah, dan membaca). Di dalam UKBI Adaptif, setiap peserta akan mendapatkan jumlah soal dan waktu uji yang berbeda sesuai dengan estimasi kemampuannya. Saat peserta mengikuti Seksi I Mendengarkan, pada tahap awal peserta uji akan mengikuti satu teslet uji yang berisi lima butir soal.

Jawaban peserta atas lima butir soal tersebut akan menentukan jenis teslet uji selanjutnya yang akan diterima peserta uji, apakah dilanjutkan dengan karakteristik soal yang lebih mudah, setara, atau lebih sulit. Pada saat peserta uji berada dalam jenjang teslet yang setara secara berturut-turut selama dua kali, tes berhenti untuk peserta uji yang bersangkutan. Jumlah maksimal teslet uji yang dikerjakan peserta adalah 9 pada Seksi Mendengarkan dengan waktu maksimal sejumlah 30 menit.

Setelah peserta uji selesai mengikuti Seksi Mendengarkan, secara otomatis peserta uji akan diarahkan untuk mengikuti Seksi II Merespons Kaidah. Pola sebagaimana pada Seksi I pun akan berlaku pada Seksi II. Hasil jawaban peserta uji pada teslet uji pertama akan menentukan jenis soal yang akan dikerjakan peserta uji selanjutnya. Waktu maksimal peserta uji pada Seksi ini adalah selama 20 menit dengan jumlah teslet maksimal 5 teslet.

Setelah berhenti pada teslet uji tertentu pada Seksi II, peserta uji akan secara otomatis beralih ke Seksi III Membaca. Pola sebagaimana pada Seksi I dan II pun berlaku pada Seksi III.  Jumlah maksimal teslet uji yang dikerjakan peserta adalah 9 teslet pada Seksi Membaca dengan waktu maksimal sejumlah 45 menit.

Dalam sosialisasi UKBI ini, Bapak Syaiful Bahri Lubis selaku Ketua KBNTT menjelaskan pentingnya UKBI sebagai alat uji standar. UKBI menguji kemampuan berbahasa bagi peserta didik. Menurutnya, saat ini banyak peserta didik kurang tepat dalam menggunakan bahasa Indonesia. Dia juga mengapresiasi SMAK Syuradikara Ende yang telah menginisiasi UKBI ini. Dia berharap agar kerja sama ini tetap berlanjut dalam kegiatan pendampingan di masa-masa mendatang.

Lebih lanjut, Kepala SMAK Syuradikara Ende, Pater Stepanus Sabon Ara, SVD, M.Pd menjelaskan bahwa banyak generasi muda saat ini tidak memperhatikan kemampuan berbahasa yang baik. Peserta didik lebih suka menggunakan bahasa gaul dan bahasa daerah dalam percakapan harian. UKBI penting agar peserta didik menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pater juga mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada Kantor Bahasa NTT yang telah bekerja sama dengan SMAK Syuradikara dalam mengadakan UKBI ini. Pater berharap agar kerja sama dengan Kantor Bahasa NTT tetap berlangsung dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan webdinar kebahasaan.

Di akhir kegiatan, moderator diskusi Ibu Maria Yuneri Eflanti, M.Pd selalu guru Bahasa Indonesia sekaligus ketua panitia UKBI SMAK Syuradikara mengucapkan terima kasih kepada Kantor Bahasa NTT yang telah bekerja sama dengan SMAK Syuradikara Ende. “Harapannya, dengan mengikuti tes ini, peserta didik Syuradikara dapat memiliki keterampilan berbahasa yang mumpuni dalam kehidupan mereka. Selanjutnya, tes ini direncanakan akan terus berlanjut setiap tahunnya untuk melihat perkembangan kemampuan Bahasa Indonesia peserta didik”, kata Ibu Evi. 

Viva Syuradikara